BERANI BERBICARA, BERHASIL BERPRESTASI MELALUI DHARMA WACANA

Prestasi di bidang akademik maupun nonakademik tidak selalu lahir dari proses yang mudah.
Di balik sebuah penghargaan, terdapat keberanian untuk mencoba, kemauan untuk belajar,
serta usaha untuk terus mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Salah satu bentuk prestasi
tersebut kembali ditorehkan oleh siswa SMPN 14 Denpasar melalui ajang Dharma Wacana
Bahasa Bali. Kegiatan ini menjadi salah satu wadah bagi generasi muda untuk
mengembangkan kemampuan berbahasa Bali sekaligus menunjukkan keberanian dalam
menyampaikan gagasan di hadapan orang lain.
Pada Sabtu, 12 September 2026, Kadek Galih Satya Nugraha turut berpartisipasi dalam
perlombaan Dharma Wacana Bahasa Bali. Dalam ajang tersebut, Galih berhasil meraih Juara
3. Pencapaian ini menjadi sebuah pengalaman berharga karena tidak hanya menguji
kemampuan dalam memahami dan menggunakan bahasa Bali, tetapi juga menuntut
keberanian, kesiapan, serta kemampuan untuk menyampaikan isi dharma wacana dengan baik
di hadapan para penilai dan peserta lainnya.
Dharma wacana sendiri bukan sekadar kegiatan berbicara menggunakan bahasa Bali. Di
dalamnya, peserta dituntut untuk mampu menyampaikan suatu gagasan atau pesan yang
memiliki nilai dan makna dengan bahasa yang tepat. Hal tersebut membuat peserta perlu
mempersiapkan materi dengan matang, memahami apa yang ingin disampaikan, serta
berusaha menyampaikannya secara runtut agar dapat dipahami oleh pendengar. Karena itu,
mengikuti perlombaan ini menjadi kesempatan bagi Galih untuk mengasah kemampuan
komunikasi sekaligus memperdalam penggunaan bahasa Bali.
Perjalanan menuju perlombaan tentu memberikan pengalaman tersendiri bagi Galih. Persiapan
yang dilakukan tidak hanya berkaitan dengan materi yang akan disampaikan, tetapi juga
bagaimana membangun keberanian dan rasa percaya diri saat tampil. Berbicara di depan
banyak orang membutuhkan kesiapan mental karena peserta harus mampu mengendalikan
rasa gugup dan tetap fokus pada pesan yang ingin disampaikan. Setiap proses tersebut
menjadi bagian penting dari pengalaman yang akhirnya mengantarkan Galih meraih posisi
ketiga.
Atas pencapaian tersebut, Galih mengaku merasa senang, karena usaha yang telah dilakukan
selama mengikuti perlombaan akhirnya membuahkan hasil. Namun, di balik rasa senang
tersebut, terdapat sedikit rasa kecewa karena ia masih belum berhasil membawa nama
kabupaten melalui pencapaian yang lebih tinggi. Perasaan tersebut justru menjadi bagian dari
proses belajar bagi Galih untuk melihat bahwa sebuah prestasi bukan hanya tentang posisi
yang diperoleh, tetapi juga tentang pengalaman dan evaluasi yang dapat digunakan untuk
berkembang di kesempatan berikutnya.
Juara 3 yang diraih Galih menjadi bukti bahwa keberanian untuk mengambil kesempatan dapat
membuka pengalaman baru. Meskipun hasil yang diperoleh belum sepenuhnya sesuai dengan
harapan, pencapaian tersebut tetap menjadi sesuatu yang patut diapresiasi. Setiap perlombaan
memberikan ruang bagi peserta untuk mengetahui kemampuan dirinya, mengenali hal-hal yang
masih perlu diperbaiki, dan belajar menghadapi tantangan dengan lebih siap.
Selain menjadi pencapaian pribadi, keikutsertaan dalam Dharma Wacana Bahasa Bali juga
turut menunjukkan pentingnya menjaga kemampuan berbahasa dan berbicara dalam bahasa
Bali di kalangan generasi muda. Bahasa daerah bukan hanya bagian dari komunikasisehari-hari, tetapi juga merupakan bagian dari budaya dan identitas yang perlu terus dikenalkan
kepada generasi berikutnya. Melalui kegiatan seperti Dharma Wacana, siswa mendapatkan
kesempatan untuk menggunakan bahasa Bali dalam suasana yang lebih formal sekaligus
belajar menyampaikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Prestasi Galih diharapkan dapat menjadi pengalaman yang terus membawanya berkembang,
bukan hanya dalam kemampuan berbahasa Bali, tetapi juga dalam keberanian berbicara,
menyampaikan gagasan, dan menghadapi berbagai kompetisi di masa mendatang. Rasa
senang atas pencapaian yang telah diraih dapat menjadi apresiasi atas usaha yang sudah
dilakukan, sementara rasa kecewa dapat dijadikan bahan evaluasi untuk melangkah lebih jauh.
Pada akhirnya, sebuah juara bukanlah akhir dari perjalanan. Juara 3 Dharma Wacana Bahasa
Bali menjadi satu langkah bagi Kadek Galih Satya Nugraha untuk terus belajar, berlatih, dan
mempersiapkan diri menghadapi kesempatan berikutnya. Semoga pengalaman ini dapat
menjadi bekal untuk meraih pencapaian yang lebih tinggi di masa mendatang serta terus
membawa nama baik sekolah dan daerah melalui kemampuan yang dimilikinya.